Kondisi Rehabilitasi Lahan Pertanian Terkena Industri Batu Bata di Kampung Sindang Sari – Kabupaten Garut dengan Agroforestry Memanfaatkan Limbah Ternak dan dengan Limbah Pertanian

Anton Abdul Fatah

Anton Abdul Fatah (lahir 1985) adalah warga asli desa Sindang Sari di Kabupaten Garut, Jawa Barat, yang sempat kondang karena memproduksi beras berkualitas tinggi, jagung, pisang dan, di tahun 2000, Jahe Gajah. Proyeknya dikelola tak jauh dari kampung halamannya yang kini mengalami kerusakan lahan akibat pengembangan besar-besaran dari kompleks perumahan di Jabotabek dan kota Bandung. Anton melakukan inovasi dari proyek rehabilitasi –yang menyulap lahan laik tanam menjadi pabrik batu bata– melalui pemanfaatan limbah peternakan dan pertanian.

Anton Abdul Fatah

Tweet Ketua Proyek

Visi

Visi saya adalah membantu petani di Kampung Sindang Sari dapat meningkatkan kesejahteraan. Meningkatkan kesejahteraan dapat bersumber dari banyak hal yang berkaitan dengan mata pencaharian mereka sebagai petani. Misalnya; panen yang berlimpah, dengan pemasaran meyakinkan produk dengan harga yang kompetitif, benih dan pupuk yang murah sehingga biaya produksi pertanian dapat ditekan. Peningkatan kesejahteraan petani juga dapat diperoleh jika mereka mendapatkan pendidikan tentang perencanaan keuangan yang baik. Sering mereka sangat dalam utang karena pola konsumsi mereka yang tidak sesuai. Pendidikan adalah sebuah jembatan panjang yang harus dilalui untuk mencapai kesejahteraan petani.

Vision-AntonAbdulFatah

Tentang Proyek

Pertumbuhan populasi dan ekonomi selama tiga dekade terakhir mendorong banyak peternak untuk berganti profesi menjadi pembuat batu bata dan genteng. Menteri Pertanian baru-baru ini menyatakan kepada media bahwa pulau Jawa telah kehilangan 600.000 hektar lanah sebagai akibat dari fenomena kompleks perumahan dan industri terkait selama empat tahun terakhir. Pulau ini memiliki 3.5 juta hektar lahan lain tanam yang tersisa, menurun dari 4.1 di tahun 2007. Produksi batu bata dan genteng tidak hanya menghabiskan lapisan teratas tanah yang mengurangi produktivitas lahan di masa mendatang. Produksi ini juga menyebabkan erosi –masalah besar di wilayah dengan curah hujan tinggi. Beberapa pihak melaporkan bahwa biaya rehabilitasi dan mengganti lahan yang hilang tersebut akan mencapai Rp 7.3 triliun. Anton dan remaja Sindang Sari merintis pendekatan Agrohutan yang memulihkan kesuburan lahan dengan menyuntikkan kompos yang dibuat dari limbah pertanian dan hewani selama penanaman pohon-pohon pisang dan Albasiah (Albizzia Falcata). Hal ini dilakukan dengan pola tumpang sari, dengan mengkombinasikan tanaman kacang yang sangat produktif dan mampu memulihkan kondisi tanah dengan kemampuan pohon Albasia untuk mengurangi erosi lahan. Anton yang merupakan pemenang kompetisi penulisan tingkat nasional di bidang Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Alam yakin akan keberhasilan metodenya. Mahasiswa berprestasi sejak masa bersekolah di Garut, ia mulai menanami pinggiran sungai Samoja di dekat lahan pertanian milik orang tuanya selama bersekolah di SMP. Ia dan saudara laki-lakinya kini memberikan pelatihan kewirausahaan untuk para pemuda di Garut untuk memproduksi dan memasarkan produk batu bata, pasir dan bingkai kayu.

Project-AntonAbdulFatah

E-idea dan Saya

Ketika menerima informasi tentang E-Idea, saya dan teman-teman di Pemuda Sindang Sari melompat keluar dari kursi dan berteriak, ini adalah apa yang kita tunggu! E-Idea adalah sarana bagi kami untuk menumpahkan keprihatinan kami pada banyak isu penurunan kesuburan pada kondisi lahan pertanian akibat industri batu bata di kota asal kami. E-Idea telah membawa kami untuk melakukan banyak penelitian pada metode pengembalian kesuburan tanah pertanian rusak, sampai kita menemukan Agroforestry. Kami yakin E-Idea dapat membantu dan menjadi salah satu jalan keluar dari masalah lingkungan di desa kami.

Supported by:

  • BRITISH COUNCIL
  • LRQA

Ketahui tentang
E-Idealists
di negara lain

Gunakan #Eidea_EA ketika mentwit

Join the conversation