Penggunaan Limbah Serat Kelapa ke Cocomesh (Fiber Kelapa Bersih)

Arif Nugroho

Arif Nugroho (tahun 1982) meraih gelar kesarjanaannya di bidang Peternakan dari Universitas Gadjah Mada di tahun 2005. Sejak lulus, ia telah bekerja di sejumlah organisasi yang punya kepedulian pada pemrosesan dan pengembangan kelapa di Indonesia. Proyek yang ia ajukan terinspirasi oleh pengalamannya bertahun-tahun menyelenggarakan pelatihan untuk para petani kelapa di sejumlah kawasan produksi penting di Medan, Riau, Lampung, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan juga Gorontalo. Ia ingin membantu para petani memanfaatkan kembali limbah batok kelapa untuk mencegah erosi di situs-situs pertambangan yang tidak lagi dimanfaatkan, sehingga meningkatkan penghasilan dan memperbaiki lingkungan hidup seraya mengurangi limbah.

Arif Nugroho

Tweet Ketua Proyek

Visi

Meningkatkan nilai tambah yang bisa didapatkan petani sabut kelapa di Indonesia dengan mengurangi limbah sabut kelapa yang tidak dimanfaatkan secara optimal melalui pemberdayaan komunitas. Serta menghijaukan kembali tanah tambang yang rusak oleh eksporasi.

Vision-ArifNugroho

Tentang Proyek

Meskipun Indonesia saat ini menjadi tempat bagi lahan kelapa terbesar di dunia dengan 3.7 juta hektar lahan kelapa, produksi tahunannya masih di bawah Negara-negara seperti India, Sri Langka dan Filipina. Dalam perjalanan ke berbagai tempat, ia melihat bagaimana para petani memperlakukan batok kelapa sebagai limbah. Kenyataan menunjukkan bahwa batok kelapa sulit untuk dibuang. Sementara itu negara-negara lain menggunakan sabut kelapa --serat alamiah yang diambil dari kelapa– untuk membuat produk-produk turunan seperti keset, sapu, matras, kantong, dan bahkan jaring sabut kelapa yang bisa digunakan sebagai media untuk rumput dan pohon agar bisa tumbuh di wilayah reklamasi tambang. Sabut kelapa 100% dapat diurai secara biologis sehingga bisa menghambat erosi, banjir dan degradasi lahan lainnya – hal yang sangat berguna mengingat Indonesia memiliki sederetan masalah dengan lahan pertambangan seperti tambang Grasberg di Papua dan Batu Hijau di Pulau Sumbawa. Baru-baru ini, Mining Advocacy Network telah mengeluarkan peringatan bahwa 80 juta hektar lahan yang dialokasikan untuk pertambangan di Indonesia – juga 54 juta hektar lainnya untuk konsensi hutan – telah melewati luas daratan Indonesia sendiri.

Karena alasan itulah, Arief yakin akan keberhasilan proyeknya. Ia juga sudah memiliki sederetan kontrak dengan sejumlah pihak untuk memproduksi pengganti jaring jute ini, di antaranya dengan PT. Agincourt Resources, Chevron Geothermal di Garut, Total E&P, dan Riau Baharum Coal, dan menargetkan perusahaan-perusahaan besar lainnya. Hal ini membuatnya mampu meningkatkan tenaga kerja dari 5 orang menjadi 100 orang petani perempuan yang trepusat di daerah Yogyakarta, Kebumen dan Kroya di Jawa Tengah. Lihat juga: www.sabutmandiri.com

Project-ArifNugroho

E-idea dan Saya

E-Idea adalah jembatan bagi saya untuk mengkomunikasikan dan mensosialisasikan program pemanfaatan limbah sabut kelapa , dan suatu kehormatan bagi saya untuk memiliki jejaring dengan E-Idea British Council dan dapat bertemu dengan orang-orang hebat yang peduli dan keprihatinan tentang lingkungan. E-Idea merupakan tempat bagi saya untuk mengembangkan proyek saya lebih maju dengan jaringan yang kuat dan kerjasama yang baik dengan British Council. Semoga proyek ini dapat dilaksanakan di daerah-daerah penghasil kelapa di seluruh Indonesia.

Supported by:

  • BRITISH COUNCIL
  • LRQA

Ketahui tentang
E-Idealists
di negara lain

Gunakan #Eidea_EA ketika mentwit

Join the conversation